button

-----Selamat Datang Diblog Saya----Selamat Membaca Dan Memahami Bacaan diBlog Saya----Jangan Lupa Datang Lagi----Di Http://www.Heyriedow.blogspot.com//

My Banner

create your own banner at mybannermaker.com!
Copy this code to your website to display this banner!

CERITA SEKILAS TENTANG DESA SENDANG REJO



A.   Sejarah Pangeran Sendang

            Dulu sendang rejo mempunyai seorang pemimpin yang bernama pangeran sendang. Dulunya sendang rejo adalah desa yang paling di hormati oleh desa atau daerah lain, yang paling menghormati yaitu desa jurug (banteng wareng II) karena daerah tersebut hanya dipimpin seorang bupati sedangkan desa sendang rejo dipimpin oleh seorang pangeran. Sampai akhirnya disuatu masa ada konflik antara pangeran sendang dengan bupati jurug, konflik antara pangeran sendang dengan bupati jurug itu dikarenakan masalah pertentangan karena bupati yang hanya sebagai bawahan pangeran berani melawan seorang pangeran. konflik tersebut semakin lama semakin besar dan akhirnya terjadilah perang obong yang cukup besar, perang yang sangat menakutkan dan menimbulkan banyak korban.
            Sebelum pangeran sendang berperang melawan bupati jurug, pangeran sendang mengesah pusoko atau sering dibilang senjata sang pangeran di batu yang sekarang masih ada, yang diberi nama batu ungkal. Saat pangeran sendang mengasah pusokonya yang paling aneh dan nyata air yang untuk membasahi pusokonya berasal dari pancuran(karang asem), air yang berasal dari pancuran yang jaraknya cukup jauh tersebut bisa sampai di daerah sendang rejo itu sungguh kejadian yang cukup aneh tapi nyata, “katanya orang jaman dulu mempunyai kelebihan untuk melakukan sesuatu dan mempunyai kekuatan yang luar biasa”.
Setelah mengasah pusokonya pangeran sendang melanjutkan perangnya dengan bupati jurug. Setelah perang tersebut selalsai, warga sendang rejo dengan jurug belum bisa akhur sampai sekarang, pasti ada masalah dan konflik antara kedua belah pihak tersebut bahkan pertikaian yang terjadi sejak zaman dahulu itu masih terjadi pada generasi muda sekarang. Walaupun konflik selalu  melanda kedua desa tersebut tetapi kerukunan selalu diterapkan untuk kedamaian dan ketentraman generasi berikutnya. Dan larangan untuk warga Sendang Rejo atau generasi selanjutnya “agar tidak menikah dengan orang dari desa Jurug” karena kalau dijalankan/dilakukan hubungan mereka akan cepat roboh dan akan terjadi kematian kepada pasangan tersebut yang terjadi pada salah satu pasangan tersebut.“hubunganya tidak tentram”.
Batas perang dulu yaitu didaerah batu ungkal yang untuk mengesah pusoko pangeran sendang. Dulunya daerah tersebut adalah seperti danau dan dulu batu ungkal tersebut sangat besar tapi sekarang batu ungkal tersebut mejadi berkurang karena dimakan oleh jaman.
karena tergoncang gempa bumi pada tahun 2006 lalu batu tersebut sekarang tempatnya sudah agak berubah dari posisi semula, dan untungnya batu tersebut masih ditahan oleh pohon jati yang kuat dikarenaskan gempa itu juga watu tersebut terbelah menjadi dua yang satu ada diatas pinggir jalan serta yang berada di bawahnya tidak jauh dari batu yang pecahan pertama. Selain untuk mengesah pusoko pangeran sendang Batu tersebut juga digunakan untuk mengesah senjata para pahlawan indonesia untuk melawan penjajah yang dulu menjajah Indonesia.
Batu tersebut konon juga digunakan untuk menyimpan pusoko dan harta karun. Tetapi benda tersebut ada yang menunggu maksud dari menunggu yaitu adalah harta karun tersebut dijaga oleh makhluk yang tidak terlihat atau ghoib, pusoko dan harta tersebut berada di bawah batu ungkal tersebut. Sampai sekarang pusoko dan harta tersebut belum ada yang mengambilnya.
Peninggalan-peninggalan pangeran sendang sangat banyak dan unik-unik diantaranya yaitu teklek dan podasi yang kini tinggal terlihat batu bata yang masih bagus ukuran batu bata yang ada ini tidak seperti batubata sekarang tetapi ukurannya dau kali lipat. Yang paling unik yaitu di sandal tekleknya karena sandalnya berupa batu yang dipahat dan dibuat seperti bentuk teklek lainya.. Dulunya sandal ini masih utuh dua tetapi sekarang tinggal satu. Selain  teklek disini juga ada peniggalan lainya yaitu diantaranya pondasi yang sekarang terlihat batu bata yang besar yang bentuknyapun unik, kalau dilihat dari bentuknya batu bata pondasi tersebut adalah bekas persinggahan yang cukup luas, karna menurut Mbah Darmo yang memiliki tanah dan yang di utus merawat pondasi tersebut, pondasinya dulu bukan hanya kecil tetapi besar bahkan kata beliau dulu rumah yang sekarang dihuninya dulu tanahnya juga bekas pondasi.
Selain sandal teklek dan batu bata di area ini ada pohon serut yang cukup tua dan usianya sudah lama dari pangeran sendang tinggal disitu sampai sekarang. Dulunya pohon serut tersebut ada dua tetapi sekarang tinggal satu, karena yang satu ada kejadian yang luar biasa yang bisa merobohkan pohon serut yang besar dan kokoh itu. Kini pohon serut itu masih hidup dan tumbuh dengan segar di area samping pondasi tersebut. Kata mbah darmo pohon serut tersebut adalah tumbuhan yang ditanam oleh pangeran sendang pada masa dulu
.



B.   Sejarah Awal Mula Terjadi Desa Sendang Rejo

Dulu desa sendang rejo adalah hutan yang belum ada penghuninya dan sampai akhirnya ada orang sendang (Ngerangan) yang datang dan berencana ingin membuatkan rumah untuk anggota keluarganya di hutan yang belum ada penghuninya tersebut. dan suatu saat orang asli sendang (Ngerangan) tersebut menetap dan membuat rumah dihutan tersebut dengan harapan yang baik. Kehidupan keluarga tersebut sungguh sangat makmur sampai akhirnya keluarga tersebut membuat rumah lagi untuk generasinya, kegiatan membuat rumah untuk keluarganya tersebut terus dilakukan sampai akhirnya daerah yang dulunya hutan tak berpenghuni kini menjadi sebuah daerah yang sangat makmur.Sampai akhirnya orang-orang dari sendang (Ngerangan) yang termasuk dalam anggota keluarganya mendengar kalau keluarganya yang tinggal di daerah yang tadinya hutan tersebut sekarang kehidupanya sangat makmur dan sudah banyak rumah di daerah tersebut .
Mendengar berita tersebut salah seorang dari keluarganya yang masih tinggal di sendang (Ngerangan) langsung berkunjung kesana. seorang yang masih sanak keluarganya tersebut melihat dan merasakan kehidupan di daerah itu. Kemudian orang tersebut langsung mengagumi kehidupan di daerah tersebut yang makmur dan bagus. Sampai akhirnya seseorang tersebut memberi nama daerah itu dengan nama Sendang Rejo, sendang yang artinya tempat mencari air (mblumbang) atau disebut sumber dan juga warga tersebut berasal dari desa yang bernama sendang(ngerangan) dan rejo yang artinya makmur . jadi sendang rejo yaitu sumber kemakmuran. Daerah yang tadinya hutan tidak ada penghuninya sekarang menjadi daerah yang makmur dan mempunyai nama yaitu desa sendang rejo tersebut mempunyai kesenian dan tradisi yang cukup unik, sampai sekarang tradisi tersebut masih dilakukan oleh warga desa sendang rejo. Tradisi tersebut diantaranya yaitu “tidak boleh menikah dengan orang sendang(ngerangan).Larangan atau tradisi tersebut tidak boleh dilakukan karena sendang dan sendang rejo masih mempunyai ikatan saudara atau masih satu darah atau satu keturunan.
            Kini desa sendang rejo masih tetap menjadi desa yang makmur. Kehidupanya yang harmonis dan suasana desa yang tenang menjadikan desa ini tetap segar dan lestari. Desa ini dulunya juga mempunyai pimpinan yaitu bernama “Pangeran Sendang” banyak sekali peninggalanya dan banyak sekali keunikan dan keanehan yang terjadi di dalam sejarahnya. Setelah ini kami akan menceritakan sejarah pangeran sendang dan peninggalan-peninggalan dari pangeran sendang.
C.   Sejarah Suto Ketepu
Dulu di desa sendang rejo ada seorang petani yang bernama Suto. Setiap hari beliau bekerja sebagai petani. Karena  bekerja  keras mbah Suto tidak pulang kerumah, tetapi minta dikirim bekal oleh sang istri. Setiap hari istrinya selalu mengirim makanan berupa nasi dan lauknya. Setelah beberapa hari saat istrinya mengirim makanan kepadanya si suami berkata pada istrinya kalau tempat ini (area samping persawhan yang digarapnya) sejuk dan nyaman baginya, lalu mbah suto tadi meminta izin pada istrinya kalau ingin menginap atau tidur di sawah tersebut. Karena istrinya merasa baik untuknya (mbah Suto) si istri memperbolehkan suaminya tidur di sawah yang digarapnya. Dan pada hari berikutnya sang istri mengirim bekal untuknya, sang suami menyambutnya dengan hati gembira. Saat istrinya sampai di tempat sang suami berada. Isterinya bilang “pak ini makanannya”. Suaminya pun menjawab “letakkan saja disitu, bu”.  Setiap hari pun begitu,tetapi disuatu hari ada kejanggalan dihati sang istri, karena makanan yang setiap harinya dikirim kepada sang suami masih utuh, lalu sang istri bertanya sang suaminya “Pak kok makanan yang aku kirimkan belum dihabiskan?”, sang suamipun menjawab “ya, nanti saya habiskan, bu”. Sang  istri bertanya kembali “kamu berada dimana pak, kok setiap aku mengirim makanan bapak tidak menampakkkan diri?”. Sang suami menjawab “aku disini, bu. Setelah beberapa hari,waktu istrinya mengirim makanan kepada sang suami dan sang suami itu bilang sama istrinya kalau beliau ingin dikirimkan makanan jenang bekatul atau yang sering dinamakan jenang abul-abul, dan menyuruh istrinya menaruh diatas kursi kayu beralaskan batu.
Kegiatan istrinya itu dilakukan setiap hari , walaupun sang suami tidak menampakkan dirinya,tetapi sang istri selalu mengirimkan makanan jenang bekatul dan santri mujung yang terbuat dari bekatul yang dibungkus daun pisang. Sampai akhirnya karena sang suami tadi tidak kunjung-kunjung pulang juga si istri memanjatkan doa dan mengirim ketepu tadi ke tempat yang biasanya di singgahi suaminya, warga meyakini bahwa mbah Suto Ketepu itu masih ada dan menunggu dan memberi keamanan untuk warga Sendang Rejo. Setelah itu ada seseorang yang memberi nama atau menjuluki daerah tersebut Suto Ketepu. Dari sejarah atau cerita tersebut, warga Sendang Rejo melakukan tradisi bersih dusun/rasulan,yang di lakukan setiap 1 tahun sekali yaitu pada hari kamis pahing atau senin pahing setelah panen. Menu yang biasa di pakai pada saat tradisi bersih dusun yaitu nasi golong,sayur lombok,tahu,tempe,peyek,krupuk.ayam bakar(wingkong), buah-buahan, nasi & lauknya,ketan, dan masih banyak lagi. Tidak lupa menu yang paling utama yaitu jenang abul-abul dan santri mujung.
            Makanan khas yang terdapat di acara sedekah bumi atau rasulan yang biasanya ditaruh di khursi sesaji yaitu ketepu atau jenang bekatul. Makanan tersebut termasuk makanan yang harus ada dalam acara bersih dusun atau rasulan di desa sendang rejo
 Dalam tradisi ini juga ada hiburan orang menari yang di iringi gamelan sering di sebut tandak atau ledek. Kadang ada juga yang menanggap tandak karena nadar yang biasanya orang tersebut membawa piring yang isinya janur dan beras yang di kasih uang. Dan biasanya tandak yang di tanggap berasal dari semin,Gunung Kidul.  Lalu juru kunci atau biasa disebut anthek memberikan doa kepada yang maha kuasa untuk mbah suto ketepu agar selamat dan tenang dialamnya dan agar desa sendang rejo menjadi aman dan makmur.
Upacara atau acara ini biasanya dilakukan dan dimaksutkan untuk bersih desa dan untuk sedekah bumi Atas hasil panen yang melimpah. Acara ini mempunyai keunikan yaitu disetiap ada acara seperti ini pasti warga sendang rejo selalu berbondong-bondong mendatangi acara ini, karena acara ini ada hiburanya yaitu ledek’an yang di iringi dengan gamelan langsung sehingga kelihatan lebih bagus dan unik. Konon katanya ledek’an tersebut adalah kesenian kesukaan mbah Suto Ketepu. Makanya disetiap mengadakan acara sedekah bumi atau biasa disebut rasulan desa sendang rejo selalu menghadirkan hiburan ledek’an. Di hiburan ini penonton bisa menciumkan putranya ke ledhek atau penari tersebut, yang konon kalau sudah diciumkan anak tersebut menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan tambah pinter. Selain itu di acara ini saat upacara pambacaan doa sudah selesai orang-orang yang berada disitu dikasih makanan yang sudah diberi doa tadi.
Selain sejarah dan keunikan-keunikan acara sedekah bumi di Sendang Rejo, desa Sendang Rejo juga mempunyai larangan yang cukup diperhatikan dan warga meyakini hal tersebut, yaitu salah satunya warga yang belum pernah datang di desa Sendang Rejo atau yang baru sekali datang di sini, tidak boleh memakai atau membawa barang yang berwarna hijau tua, karena konon warna hijau tua adalah warna yang tidak disukai oleh mbah suto ketepu. Kegiatan dan budaya tersebut sampai sekarang masih dan tetap dilakukan walaupun jaman sudah berbeda. Kami dan warga Sendang Rejo akan melestarikan budaya dan mengingat sejarah tersebut.


0 komentar:

Poskan Komentar